Yayasan MATEPE dan GKSS Gelar Pelatihan Konseling dan Kesetaraan Gender di Galesong

Galesong, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 2026 — Yayasan MATEPE menggelar Pelatihan Metode Konseling dan Kesetaraan Gender pada 24–27 Agustus 2026 di Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Program ini merupakan hasil kerja sama Evangelical Mission in Solidarity (EMS) dan Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS) di bidang penanganan kekerasan berbasis gender (gender based violence/GBV). Yayasan MATEPE bertindak sebagai pelaksana kegiatan ini.

Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas para pelayan gereja dalam memahami metode konseling dan pelayanan pastoral, khususnya dalam mendampingi korban kekerasan berbasis gender. Peserta diharapkan memahami prinsip-prinsip konseling, pendekatan pendampingan yang tepat, serta perspektif kesetaraan gender dalam pelayanan gereja.

Acara dibuka secara langsung oleh Sekretaris MPS GKSS, Pdt. Samuel Dominggus, S.Th., yang menegaskan pentingnya peran gereja dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi seluruh jemaat. Ia mengatakan, “Gereja memiliki peran penting dalam memberikan ruang yang aman bagi setiap jemaat, termasuk bagi mereka yang mengalami kekerasan berbasis gender. Melalui pelatihan ini, para pendeta dan penatua diharapkan semakin memiliki pemahaman dan keterampilan dalam memberikan pendampingan pastoral yang tepat, sensitif, dan berperspektif kesetaraan gender.”

Kami menyambut baik kolaborasi EMS, GKSS, dan Yayasan MATEPE sebagai langkah bersama untuk memperkuat kapasitas gereja dalam mencegah dan merespons kekerasan berbasis gender,” tambahnya.

Sebanyak 26 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas pendeta, vikaris, penatua, dan diaken jemaat, dengan rincian 12 perempuan dan 14 laki-laki. Mereka diharapkan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelayanan di jemaat dan komunitas masing-masing.

Dua narasumber dengan bidang keahlian yang saling melengkapi mengisi materi pelatihan. Untuk metode konseling, Pdt. Erny Tonapa, M.Si., membekali peserta dengan prinsip dasar konseling, keterampilan komunikasi, teknik mendengarkan aktif, serta pendekatan pendampingan bagi jemaat yang menghadapi berbagai persoalan, termasuk korban kekerasan. Sementara itu, Pdt. Jenifer Astin Septiana, M.Th., membawakan materi kesetaraan gender, mulai dari konsep gender, kesetaraan, dan relasi yang adil, hingga pengaruh perubahan iklim terhadap beban perempuan. Peserta juga diajak memahami bagaimana ketimpangan relasi dan konstruksi gender dapat memicu kekerasan, serta bagaimana gereja dapat berperan dalam mencegah dan menanganinya.

Selama empat hari pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga mengikuti sesi refleksi, diskusi, dan berbagi pengalaman seputar tantangan pelayanan di lapangan. Pendekatan ini membantu peserta mengaitkan materi pelatihan dengan realitas pelayanan jemaat, terutama dalam memberikan respons awal dan pendampingan bagi korban kekerasan berbasis gender.

Ketua MPS GKSS, Pdt. Abdur Razak, S.Teol., turut hadir dalam kegiatan ini bersama Pdt. Samuel Dominggus, yang sebelumnya membuka acara. Hadir pula Pdt. Gustina, Regional Support Officer (RSO) perwakilan EMS, yang mendukung pelaksanaan program kolaborasi ini. Kehadiran unsur pimpinan GKSS dan perwakilan EMS ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat respons gereja terhadap kekerasan berbasis gender. Kolaborasi tersebut turut membangun kapasitas pelayan gereja agar mampu memberikan pendampingan yang lebih tepat, berperspektif korban, dan menjunjung tinggi martabat setiap individu.

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat peran gereja sebagai ruang yang aman bagi setiap orang, sekaligus mendorong terbentuknya budaya pelayanan yang menolak kekerasan, menghargai kesetaraan, dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *